Seringkali gue pulang ke kosan dengan keadaan penuh inspirasi_semisal habis pulang dari nonton bioskop, atau habis meng-observasi suatu peristiwa di jalanan, atau habis ngobrol sama temen, atau habis makan es krim, atau habis apapun dan penuh tekad untuk menulis, bahkan sembari di jalan gue sudah menyusun kata-kata, mengambil kata secara acak, mengingat kata-kata aneh, terminologi nyeleneh_ semua itu buyar seketika gue benar-benar duduk di depan laptop dan hendak mengetik.
Terkadang gue berhasil menulis satu paragraf, lalu gue merasa tulisan gue lame. kehilangan minat. gak jadi gue lanjutin.
Kadang gue terdistraksi oleh distraktor yang jauh lebih seru (pada saat itu) daripada nulis, misalnya ada serial Castle musim ke-3 ato keinginan nonton Big Bang Theory yang udah diulang entah keberapa kalinya.
Distraktor lainnya yang juga ampuh adalah Youtube. Saat gue berhenti mengetik sejenak untuk memikirkan susunan kalimat selanjutnya yang mesti gue tulis, gue melihat buffering Youtube gue udah nyampe mana; dan alhasil, gue malah nonton, dan tulisan pun terbengkalai (seperti yang terjadi kira-kira sepuluh detik lalu).
Tapi terkadang, menulis seperti oase; pemenuhan kebutuhan batin, food for my soul (cielah); seperti halnya membaca, dan menonton film_dan makan coklat dan makan es krim_bagi gue. Oh, satu lagi: nonton konser musik, entah itu band atau orkestra; tapi akan lebih menyenangkan menonton orang-orang yang dekat dengan kita bermain musik, di panggung atau sebagai pengiring.
Jadi kali ini gue hanya akan menulis ngalor-ngidul. Bagi yang terdampar disini saat blog-walking: I’ve nothing to say, just enjoy it. Kalaupun tidak ada seorangpun yang membaca tulisan ini, tak apa, karena tujuan gue nulis adalah kepuasan batin.
***
Gue dan rekan-rekan MIC: motem, ipeb, kak gocan dan juga ezra, tadi habis ketemuan dan kumpul setelah berminggu-minggu gak ketemu. Singkat cerita, kami nonton The Beaver, yang disutradarai Jodie Foster (tadinya mau nonton Transformers tapi ternyata belum dateng ke Indo. maklum habis embargo)
The Beaver, atau si berang-berang, ternyata mengangkat topik cerita seputar psychological issue, serta drama keluarga. Ceritanya Mr Walter Black (Mel Gibson) yang dulunya sukses dan berambisi, sekarang menderita depresi tak berkesudahan. Tidak begitu dijelaskan penyebab depresi nya, tapi yang jelas keadaannya jadi hidup-segan-mati-tak-mau. Sampai ia menemukan boneka berang-berang/puppets yang ia jadikan alter-ego nya, ia berkomunikasi lewat sang berang-berang. Pada awalnya semua berjalan lancar: istrinya (Jodie Foster) kembali padanya begitu pula anak bungsunya. Namun Porter, anak pertamanya, tetap tidak menyukainya, Porter justru sedang mempunyai problem sendiri dengan temannya, terkait masalah kejujuran. Konflik kembali muncul saat istrinya ‘gerah’ akan keberadaan the beaver dan orang-orang mulai mempertanyakan sanity atau kewarasan Walter.
Mel Gibson berakting sangat brilian; emosi dan keadaan mental yang kompleks terlihat disini. Message yang gue tangkep dari film ini adalah: pertama, kadang kita merasa diri kita bukan apa-apa, berantakan, it’s a mess, kacau, tapi ternyata orang lain belum tentu beranggapan demikian; kedua, kalau ada temen ato sodara kita yang merasa depresi, jadi pendiam-penyendiri dan kerjaannya melamun atau tidur terus, jangan dijauhi tapi didekati, ditanya kenapa. karena sebenernya mereka perlu teman, untuk mengerti perasaan mereka atau sekedar untuk tempat curhat; ketiga, jangan menyendiri terlalu sering, berkontemplasi itu perlu tapi bersosialisasi lebih menyehatkan. serius. jangan sampai berantem sama boneka berang-berang.
***
Lewat film ini, entah mengapa gue malah tersadarkan pentingnya mencintai diri sendiri. Bukan narsis, tapi menerima dan menghargai keadaan diri sendiri. Hal itu sering dilupakan orang, gue termasuk di dalamnya. Mengenal diri sendiri adalah suatu proses yang jauh lebih rumit daripada mengenal dan memahami orang lain_menurut opini gue. Mengenal diri sendiri artinya kita tau apa yang kita sukai, apa yang kita mau. Mencintai diri sendiri artinya kita merawat diri, tau batas kemampuan diri, tau cara menjaga kesehatan (gue bold karena gue masih payah dalam hal ini) dan gak cuek sama keadaan diri sendiri. Gue sadar, sering banget gue semena-mena sama badan gue: gue ajak begadang, gue ajak nyetir sampe malem, gue paksa gak makan sampe maag kambuh, gue cuek. Padahal, yang bisa gue andalkan setiap saat, apalagi dalam keadaan perantauan macem ini, adalah diri gue sendiri. Ironis.
Maka gue mengajak diri sendiri,_dan setiap orang yang kebetulan membaca tulisan ini_ untuk sejenak mendengarkan, merasakan, apa yang diri kita, jiwa kita, badan kita inginkan. Apakah jari-jari kaki elo sakit, lecet? Mungkin sepatu elo gak nyaman dipake. Betis kram? Mungkin elo perlu lebih rileks saat nyetir. Asma kumat, nafas ngik-ngik? Badan letih? Jiwa lelah? Mungkin elo perlu pergi liburan (yeah it’s soooo me!)
Jangan paksa diri kita untuk menderita lebih jauh. Manage stress, don’t worry too much, do exercise.
(Gee, talking is much much easier than done. Forgive me, but I actually have to do it myself than just writing it here)
***
“Hakuna Matata”. means no worry for the rest of your day
“Love so distance and obscure, remains the cure..” [All by Myself]