nostalgia sma

Ketika gue lagi bongkar-bongkar kardus berisi tumpukan buku-buku lama jaman TPB, ternyata terselip pula buku tulis Bahasa Indonesia jaman gue SMA.

Ndilalah, di dalamnya terdapat dua puisi yang gue tulis. Satu didedikasikan kepada salah satu mata pelajaran favorit gue jaman SMA; satu lagi untuk temen-temen gue di sekolah yang lama.

Puisi untuk mata-pelajaran-misterius tersebut ada di sini 

Sementara puisi gue yang satu lagi gue taruh di blog ini. Ini dia

Dalam sempitnya waktu

izinkan aku merenung

mengingat kisah-kisah persahabatan ini

susah, senang, suka dan duka

kita lewati rintangan bersama

terimakasih, Kawan

kalian hidupkan kembali nadiku.

semangatku

dalam persahabatan yang penuh keunikan ini

Mungkin jarak akan memisahkan kita

tapi tidak kenangan ini

jadi aku tak akan ucapkan selamat tinggal,

melainkan sampai jumpa, sampai bertemu lagi

[Kuala Lumpur, 8 September 2005]

Rather cheesy isn’t it? Gue gak akan membela diri, emang itu cerminan gue yang lagi gundah gulana waktu mau pindah sekolah.

***

Masih seputar buku catatan Bahasa Indonesia gue. Di dalamnya terdapat hal-hal yang menurut gue menarik. Misalnya, pelajaran mengenai puisi lama.

Jenis-jenis puisi lama (menurut catatan gue 5 tahun silam) antara lain:

1. Pantun

adalah puisi 4 baris 1 bait; baris 1-2 disebut sampiran dan baris 3-4 disebut isi; bersajak a-b-a-b; tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata; isinya merupakan curahan perasaan. Contoh:

Buah cempedak di luar pagar

Ambilkan galah tolong ambilkan

Kami murid baru belajar

jikalau salah tolong tunjukkan

(#aseeek #ngutip dari mbah google)

 

Ada gula ada semut

ada ladang sapi merumput

Disini ribut disana ribut

tanpa bangjo jalan semrawut

(#aseekk #buatan sendiri #prikitiw)

 

2. Karmina (kayak judul sinetron)

adalah pantun kilat; terdiri dari 2 baris 1 bait; baris ke-1 sampiran, baris ke-2 isi; sajak akhir a-a; isi curahan perasaan. Contoh:

Dahulu parang sekarang besi,

dahulu sayang sekarang benci

(duilee.curcol)

3. Gurindam

adalah puisi 2 baris 1 bait; baris kesatu dan kedua punya hubungan sebab-akibat; sajak a-a; isi nasihat atau suatu kebenaran. Contoh:

Dengan ortu hendaklah hormat,

supaya diri dapat selamat

(#aseekk #contoh dari bu guru)

4. Talibun (kalau huruf u-nya diganti huruf a, lain cerita)

terdiri dari 6 baris (atau lebih); baris 1-3 sampiran baris 4-6 isi; bersajak abc-abc. Contoh:

Kalau anak pergi ke pekan

Yu beli belanak beli

Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan

Ibu cari sanakpun cari

Induk semang cari dahulu

(#aseekk #gak ngerti sih gue sebenernya #ngutip dari mbah wiki)

5. Syair

semua baris adalah isi; isinya adalah cerita. (Contoh belum ada, gue bikin dulu yap biar gak pasaran)

***

disclaimer: semua yang gue tulis diatas punya copyright berbeda-beda. tulisan ini untuk kepentingan nostalgia semata.


wander.drifter

Seringkali gue pulang ke kosan dengan keadaan penuh inspirasi_semisal habis pulang dari nonton bioskop, atau habis meng-observasi suatu peristiwa di jalanan, atau habis ngobrol sama temen, atau habis makan es krim, atau habis apapun dan penuh tekad untuk menulis, bahkan sembari di jalan gue sudah menyusun kata-kata, mengambil kata secara acak, mengingat kata-kata aneh, terminologi nyeleneh_ semua itu buyar seketika gue benar-benar duduk di depan laptop dan hendak mengetik.

Terkadang gue berhasil menulis satu paragraf, lalu gue merasa tulisan gue lame.  kehilangan minat. gak jadi gue lanjutin.

Kadang gue terdistraksi oleh distraktor yang jauh lebih seru (pada saat itu) daripada nulis, misalnya ada serial Castle musim ke-3 ato keinginan nonton Big Bang Theory yang udah diulang entah keberapa kalinya.

Distraktor lainnya yang juga ampuh adalah Youtube. Saat gue berhenti mengetik sejenak untuk memikirkan susunan kalimat selanjutnya yang mesti gue tulis, gue melihat buffering Youtube gue udah nyampe mana; dan alhasil, gue malah nonton, dan tulisan pun terbengkalai (seperti yang terjadi kira-kira sepuluh detik lalu).

Tapi terkadang, menulis seperti oase; pemenuhan kebutuhan batin, food for my soul (cielah); seperti halnya membaca, dan menonton film_dan makan coklat dan makan es krim_bagi gue.  Oh, satu lagi: nonton konser musik, entah itu band atau orkestra; tapi akan lebih menyenangkan menonton orang-orang yang dekat dengan kita bermain musik, di panggung atau sebagai pengiring.

Jadi kali ini gue hanya akan menulis ngalor-ngidul. Bagi yang terdampar disini saat blog-walking: I’ve nothing to say, just enjoy it. Kalaupun tidak ada seorangpun yang membaca tulisan ini, tak apa, karena tujuan gue nulis adalah kepuasan batin.

***

Gue dan rekan-rekan MIC: motem, ipeb, kak gocan dan juga ezra, tadi habis ketemuan dan kumpul setelah berminggu-minggu gak ketemu. Singkat cerita, kami nonton The Beaver, yang disutradarai Jodie Foster (tadinya mau nonton Transformers tapi ternyata belum dateng ke Indo. maklum habis embargo)

The Beaver, atau si berang-berang, ternyata mengangkat topik cerita seputar psychological issue, serta drama keluarga. Ceritanya Mr Walter Black (Mel Gibson) yang dulunya sukses dan berambisi, sekarang menderita depresi tak berkesudahan. Tidak begitu dijelaskan penyebab depresi nya, tapi yang jelas keadaannya jadi hidup-segan-mati-tak-mau. Sampai ia menemukan boneka berang-berang/puppets yang ia jadikan alter-ego nya, ia berkomunikasi lewat sang berang-berang. Pada awalnya semua berjalan lancar: istrinya (Jodie Foster) kembali padanya begitu pula anak bungsunya. Namun Porter, anak pertamanya, tetap tidak menyukainya, Porter justru sedang mempunyai problem sendiri dengan temannya, terkait masalah kejujuran.  Konflik kembali muncul saat istrinya ‘gerah’ akan keberadaan the beaver dan orang-orang mulai mempertanyakan sanity atau kewarasan Walter.

 

Mel Gibson berakting sangat brilian; emosi dan keadaan mental yang kompleks terlihat disini. Message yang gue tangkep dari film ini adalah: pertama, kadang kita merasa diri kita bukan apa-apa, berantakan, it’s a mess, kacau, tapi ternyata orang lain belum tentu beranggapan demikian; kedua, kalau ada temen ato sodara kita yang merasa depresi, jadi pendiam-penyendiri dan kerjaannya melamun atau tidur terus, jangan dijauhi tapi didekati, ditanya kenapa. karena sebenernya mereka perlu teman, untuk mengerti perasaan mereka atau sekedar untuk tempat curhat; ketiga, jangan menyendiri terlalu sering, berkontemplasi itu perlu tapi bersosialisasi lebih menyehatkan. serius. jangan sampai berantem sama boneka berang-berang.

***

Lewat film ini, entah mengapa gue malah tersadarkan pentingnya mencintai diri sendiri. Bukan narsis, tapi menerima dan menghargai keadaan diri sendiri. Hal itu sering dilupakan orang, gue termasuk di dalamnya. Mengenal diri sendiri adalah suatu proses yang jauh lebih rumit daripada mengenal dan memahami orang lain_menurut opini gue. Mengenal diri sendiri artinya kita tau apa yang kita sukai, apa yang kita mau. Mencintai diri sendiri artinya kita merawat diri, tau batas kemampuan diri, tau cara menjaga kesehatan (gue bold karena gue masih payah dalam hal ini) dan gak cuek sama keadaan diri sendiri. Gue sadar, sering banget gue semena-mena sama badan gue: gue ajak begadang, gue ajak nyetir sampe malem, gue paksa gak makan sampe maag kambuh, gue cuek. Padahal, yang bisa gue andalkan setiap saat, apalagi dalam keadaan perantauan macem ini, adalah diri gue sendiri. Ironis.

Maka gue mengajak diri sendiri,_dan setiap orang yang kebetulan membaca tulisan ini_ untuk sejenak mendengarkan, merasakan, apa yang diri kita, jiwa kita, badan kita inginkan. Apakah jari-jari kaki elo sakit, lecet? Mungkin sepatu elo gak nyaman dipake. Betis kram? Mungkin elo perlu lebih rileks saat nyetir. Asma kumat, nafas ngik-ngik? Badan letih? Jiwa lelah? Mungkin elo perlu pergi liburan (yeah it’s soooo me!)

Jangan paksa diri kita untuk menderita lebih jauh. Manage stress, don’t worry too much, do exercise.

(Gee, talking is much much easier than done.  Forgive me, but I actually have to do it myself than just writing it here)

***

“Hakuna Matata”. means no worry for the rest of your day

“Love so distance and obscure, remains the cure..” [All by Myself]


Why I heart Los Blanchos

  • Because he always waits for me, no matter how long I go. No matter how late. No matter the weather. He always waits. With no complaint
  • He’s a loyal companion, wherever I want to go, in any mood.
  • He can sing ;)
  • He’s energetic, drift, fast.
  • He’s smart, and pennywise.
  • Simply, he’s been bewitched me all this time. Every-time I looked at him, I always feel mesmerized.

 

Quotations about him:

“putih, endut; kayak mencit” [Oknum J] gak apa, mencit kan lucu

“putih lucu juga ya..” [sobat R] agreed!

“Apa, pake premium?? pantes Los Blanchos kalah di Liga Champions. Pake pertamax dong” [Bozo] gak nyambung deh

thanks Meine Eltern for setting me up with him <3

Continue reading

encouragement

For someone who encouraged me the day before ‘seminar day’, thank you.

You said it wasn’t difficult and that I can do it. Then I did.

 

 

 

So do you.

 

 

 

 

Come on, let’s start all over again :)

 

There’s no way out except to finish what you’ve started.

You surely can do it.


..and I said See You, not Goodbye

Gue dan MIC team-lebih tepatnya Bundi’s Team, tadi baru mengadakan farewell party untuk Bundi.

Setelah acara tadi berakhir, gue baru merasa bahwa ada  sesuatu yang ‘hilang’. Terlepas dari fakta bahwa gue belum sidang,-gue masih harus menghadapi 4 sks tersisa untuk menggenapi minor gue- gue merasa bahwa empat tahun itu lumayan cepat, dan tingkat akhir adalah yang paling ekstrim-dapat diandaikan sebagai laju persneling gigi lima.

Selama ini bayangan TA di benak gue adalah momok menakutkan dan sedari tingkat dua bertanya-tanya, ‘bisa gak gue melewatinya’, bener-bener belum kebayang. Ternyata di tingkat empat ini gue bertemu MIC team yang lucu-lucu dan gaul banget personelnya, serta Alhamdulillah, Ibu dosen pembimbing yang baik dan care banget sama tim anak bimbingnya.

Nah, Juni ini dosen pembimbing gue harus pindah ke Negeri Tirai Bambu, mengikut suami beliau yang pindah dinas kesana. Jadilah kami me-arrange farewell party ini, walaupun simpel, intinya adalah makan (semi-Thai cuisine tonight! :) ) dan ngobrol, setidaknya kami dapat berterimakasih kepada Bundi dan mengucapkan selamat jalan dan sampai berjumpa lagi di lain kesempatan.

Momen malam ini yang paling berkesan bagi gue adalah ketika Bundi mendoakan agar beberapa tahun ke depan, kami sudah meraih impian dan cita-cita kami masing-masing. Ada yang ingin ke Cina (dan Bundi akan main ke Nanjing), ada yang ingin ke Tokyo (dan Bundi juga akan main ke Tokyo), ada yang mau mengajar, ada yang mau kerja, ada yang mau fast-track S2, ada yang mau jadi rektor, ada yang mau kerja di KS, ada juga yang mau sekolah bisnis..

Terharu gue membayangkan beberapa tahun ke depan. Gue berharap kami bisa meraih impian kami masing-masing dan ketika ketemu lagi udah dengan gelar yang berbeda, titel profesi yang berbeda, sudah meraih kemandirian finansial dan sudah dalam tahap mengaktualisasikan diri.. Amiiinn.

 

Terimakasih Bundi, terimakasih MIC team dan Bundi’s team :)

*Sesi Foto bareng, kurang satu personel: Mobot alias motem alias the crickett

Bundi's team at Thai Palace


Me, Missing the Journal

Heigh-ho!

Long time ago since the last time I posted something in this-little-journal-of-mine.

So yeah, I’ve been focusing to my final project, which is..yet to be done.

Currently I still got to finish my last lecturer, named Marketing. It’s kinda interesting actually, albeit some ‘uninteresting things’ that happened today, but, not to whine.

In this lecture, we got something called “Big Project”. And guess who’s the lucky number one which my tutorial-mates picked for the team’s secretary? You got it. The one who typing this burbling note in this semi-abandoned journal.

I don’t really know what to write down here. I just miss to write. It tickles. It’s itchy.

June. a flash summer fling. Romance’s in the air. Warm breeze (except for nights, heck, it’s freezing).

PS. I got 182 seconds chance to hear him playing again. Biutiful Signor!


Crazy Love

Malam tadi Pukul 7 Gue menyempatkan untuk nonton Mario Teguh the Golden Ways di Metro tv, padahal tepat jam7 itu pula gue baruu aja menjejakkan kaki di kost.

Gara-gara tema minggu ini yang cenderung aneh (dan gara-gara ortu yang semangat banget nontonnya) : “Jika tidak gila, maka itu bukan cinta” jadilah gue turun, numpang nonton di ruang makan kosan setelah gue ganti baju.

Setelah gue setel channel yang tepat, gue menghempaskan diri ke sofa nan empuk, daan.. gak rugi gue nonton malam ini: full nge-banyol! (ngelucu-red.)

Gue nonton saat show nya udah separuh jalan.

Pak Mario Brader bilang, kita jangan mengambil keputusan saat kita sedang disetir perasaan. Terutama ketika kita sedang merasakan: jatuh CINTA, atau SEDIH, atau MARAH, atau GEMBIRA, atau CEMBURU.

Oke, gue ngerti. Cemburu memang membakar. Kita jadi orang yang jelek banget saat cemburu.

Lalu pertanyaan polling yang diajukan menarik bagi gue:

  • Jika pujaan hati anda akan segera dinikahkan oleh orangtuanya dengan orang lain, sementara anda belum mengajukan pernikahan, apa yang akan anda lakukan?

a. kawin lari, b. menantang duel saingan anda, c. pergi ke dukun

Sebanyak 54% responden ternyata menjawab B. Tapi ada juga yang menjawab C sebanyak 3%. Ha!

Kalau gue jadi responden, kayaknya gue bakal menjawab B. Apalagi tanggapan sang responden tadi cukup bagus: ‘saya akan menantang duel pakai otak Pak. Kalau emang harus fisik yaa tantang olahraga aja. Olahraga nya apa? Catur’. Yeah. Another king of nge-les. Tapi gue gak ahli main catur. Kalau lomba gerak jalan aja gimana?

Kalau kawin lari..gue gak pinter lari. Ujian lari TPB dapat B. Lari paling cepet 17-18 menit.

Pergi ke dukun? Nah, tadi si responden yang menjawab C ditanyain juga. Eh ternyata ada yang berani ngaku, terus namanya Lukman. Jadi bulan-bulanan Pak Mario deh: Masa namanya Lukman-nama orang beriman lho itu-, perginya ke dukun? Nah lho.

Ketiga jawaban diatas ternyata adalah cerminan ‘kegilaan’ yang dapat dilakukan orang kalau lagi jatuh cinta. Kalau lagi jatuh cintrong hal-hal yang aneh; tidak wajar, bisa dilakoni.

Kemudian sang host, Uli Herdiansyah bertanya sama Pak Mario, ‘bagaimana kalau mau jatuh cinta sama orang aja susah, lamaa gitu. penuh pertimbangan? Alon-alon waton kelakon?’

Pak Mario dengan santainya menjawab, ‘Lha, kalau kelamaan mikir pasti salah milih. Yang namanya cinta itu kepingin cepet. Jadi kalau ada orang yang stay cool, santai gitu..artinya he’s not in love. dia tidak sedang jatuh cinta’

Nah, gue jadi inget kata Om Phil dalam lagunya, “You Can’t Hurry Love”. Filosofinya malah berkebalikan dengan kata Pak Mario.  Kata Om Phil jatuh cinta gak bisa dipaksain, gak bisa buru-buru. Slow but sure. Nah lho.

Lalu kaidah mana yang perlu gue anut??

Setelah gue analisis mungkin maksudnya Pak Mario adalah, kalau kita lagi jatuh cintrong pastilah kita kepingin selalu deket sama si pujaan hati. Pengen ketemu. Pengen ngobrol. Pengen ngeliat dia selalu. Always in hurry, right?

Nah, kalau maksud Om Phil, walaupun kita jatuh cinta selangit sama seseorang, tapi ternyata si doi nya kalem-kalem aja..maybe you just have to wait. harus bersabar. menanti dibukakannya pintu hati (duh, bahasa apa ini. melodrama) you can’t hurry love. Tapi kalau sekian lama tidak ada reaksi..maybe he/she’s just not that into you. cinta tak bisa dipaksakan bukan? (pledoi lama. klise). Such heartbreaking, tapi mau apalagi?

Saat segmen berikutnya, ada lagi yang menarik buat gue. Seorang bapak-bapak berusia lebih dari setengah baya bertanya, ‘Bagaimana kalau sulit mengungkapkan cinta? Saya tipe yang seperti itu’ Mario membalas, Bapak sudah menikah, punya anak? Dijawab, ‘Sudah, bahkan Alhamdulillah sudah punya cucu’

Pak Mario tersenyum-senyum mendengar pengakuan si Bapak tadi. Lalu beliau menjawab, ‘mulailah dari sekarang Pak. Katakan betapa bersyukurnya Bapak memiliki istri Bapak yang telah memberikan anak dan cucu yang baik. Wanita akan sangat tersanjung ketika dipuji. Keluarkan ke-Janaka-an Bapak, ke-Permadi-an Bapak, ke-Arjuna-an Bapak (sebetulnya semua nama ini bisa diringkas jadi satu: Arjuna)’

Wow, two thumbs up Sir!!

Benar, gue setuju sekali, wanita akan sangat senang ketika dipuji, disanjung oleh pria yang dia sayang. Tapi bukan rayuan gombal, atau phony lines. Dan juga gak perlu terlalu sering. Kata-kata pujian itu akan spesial kalau gak diumbar keseringan.  It’s okay to be a little bit cheesy; honesty is most important, and also be spontaneous.  Pak Mario ini memang so sweet sekali ya. Beliau di rumah juga ngakunya dipanggil honey, karena manis katanya (disambut oleh tawa penonton. gak sopan memang penonton MTGW ini)

Yang menurut gue lebih sweet adalah si Bapak-bapak yang bertanya tadi. Interpretasi gue atas pertanyaan si Bapak tadi adalah: si Bapak ini berani mengakui bahwa dia kurang romantis, kurang bisa mengungkapkan perasaan. Tapi dia mau belajar. Makanya dia bertanya. Jadi sebenarnya dia romantis. Dia ingin membahagiakan istrinya. Kurang sweet apa coba? Ayo Pak praktekkan, puji istri anda! :)

Kalau ngomong tentang cinta-cintaan emang seru. Terutama buat yang masih sendiri.

Perasaan berdebar-debar, panas dingin, kegalauan, melodrama, kemasygulan, menceracau, nervous ketika berpapasan atau ngobrol sama the big crush…sensasi adrenalin yang luar biasa bukan?

Kalau yang udah punya pasangan, tantangan terbesar sebenarnya adalah bagaimana menjaga hubungan itu agar awet, langgeng sampai bercucu-bercicit. Bagaimana menjaga love sparks tetap ada..walaupun udah puluhan tahun hidup bersama.

Karena kata Pak Mario, pasangan yang tetap mempertahankan kemesraan mereka-tak peduli berapapun usia mereka, akan kelihatan lebih awet muda :)

“Try as they may, they could ever explain, what’s been said between your heart and mine..” [when you say nothing at all - ronan keating]

“Love is like fire, it burns when its hot..” [love hurts - rod steward]


ada apa dengan hari ini

Pokoknya banyak pelajaran yang bisa gue petik hari ini.

Pertama: Pasang gigi 1, masuk gas-setengah kopling terus saat di tanjakan,terutama yang curam, dan waktu pertama kali lewat jalan tersebut.belum lagi kalau macet. Duh.

Jadi ceritanya pas gue keluar parkiran belakang SABUGA/SARAGA, jam 17.30, syahdan itu waktunya macet berderet-deret. Alhasil gue gak bisa motong jalur untuk belok kanan, karena: 1. itu tanjakan, 2. macet banget 3. belum tentu ada mobil baik hati yang mau ngebiarin gue lewat.

Akhirnya gue memilih pasrah dan mengikuti arus menuju Cihampelas. Tapi olala..di depan jalur ternyata dihalangi angkot dan angkot itu ternyata…mogok.

Gue pasang gigi mundur. satu-satunya jalan tersisa hanyalah jalan keluar lajur tengah: tanjakan yang lebih curam dibanding yang lain. Untungnya Pak angkot berbaik hati ngebantu aba-aba dan nge-berhentiin mobil biar gue gak perlu lama-lama main setengah kopling. Alamak. Lumayan deg-deg serr juga rasanya. Pengalaman pertama melewati tanjakan tengah_untungnya berlangsung lancar..

Kedua: Kebijaksanaan VIOS.

Yeah. Selama mengarungi macet gara-gara si komo mau ke PVJ ini (macetnya arah ke Cipaganti doang. Cihampelas sebenernya lancar) kerjaan gue otomatis melototin mobil depan gue, plus nomor pelatnya, plus ngelamun/mikir. Mobil depan gue kebetulan adalah Toyota VIOS dengan nomor plat D *** MC.  Los Blanchos juga gue posisikan sedemikian rupa sehingga mepeet banget dengan si Vios dengan tujuan agar tidak diterobos oleh motor-motor Bandung yang terkenal badung (yeah,that’s rhyme!). Gue perhatiin si Vios ini pas sebelum belokan lampu merah Ciumbuleuit dia ambil lajur kiri, dan di depan dia adalah angkot yang ngetem. Pada suatu saat sebenernya si Vios bisa ambil kanan untuk segera pindah lagi ke lajur kiri_daripada kelamaan nunggu si angkot berhenti_tapi sodara- sodara, dia tidak melakukannya! Padahal kalo gue di posisi dia, mungkin udah ngepot aja gue kanan-kiri.

Dalam hati gue membatin, kenapa? 

Pas tepat di depan belokan, gue menemukan jawabannya. Ternyata di depan memang amat teramat macet. Ada kendaraan yang motong dari arah depan juga. Kalau si VIOS pindah ke lajur kanan, maka bisa jadi dia terperangkap, sulit untuk pindah lagi ke lajur kiri, padahal tujuan dia adalah belok kiri.

Ini bisa gue analogikan dengan filosofi hidup.

Gue harus punya tujuan hidup, titik akhir yang ingin gue capai. Nah, dalam perjalanan menuju ke titik itu, gue harus fokus. Disinilah tantangannya. Terkadang kita merasa takut: takut didahului oleh teman-teman, ragu, cemas, sehingga kadang kita berpikir untuk ‘pindah jalur’ atau ikutan mainstream, ikut arus, ikut temen.  Padahal, kalo kita pede dengan diri kita sendiri, kita punya prinsip dan kita percaya someday kita akan mencapai cita-cita kita itu, bisa kok. Ya seperti yang si VIOS lakukan tadi. Dia tau ingin kemana, walaupun di sebelahnya kosong dan bisa dia manfaatkan kesempatan itu, tapi nggak dia ambil begitu aja. Intinya berpikir dulu sebelum bertindak. Jangan asal main embat kanan-kiri. Pikirkan, bener gak itu yang gue pengenin?

Ketiga: rencana Tuhan akan indah pada waktunya.

Gue cuman manusia biasa. Gue bisa punya keinginan, mimpi-mimpi, harapan. Tapi belum tentu semua seperti yang gue inginkan. Gue bisa kecewa juga. Gue bisa takut, bisa cemas. Tapi yang bisa gue lakukan adalah terus mencari apa yang gue inginkan, berusaha dan berdoa buat yang terbaik. Semoga Dia menunjukkan jalan yang terbaik buat gue..

After all this time, I finally realized, I’m just another human. 


sayap-sayap patah

Sayangku ku mohon tetap disini
Temani jasadku,yang belum mati

Rohku melayang, tak kembali
Bila kau pun pergi
Meninggalkan yang terbaik
Bagi kita semua

Ku coba kembangkan sayap patahku
‘Tuk terbang tinggi lagi diangkasa
Melayang melukis langit
Merangkai awan awan mendung

 

[Sayap-sayap Patah - Dewa 19]


Night with Josh

Pernah punya CD atau kaset yang elo suka banget lagu-lagunya sampai elo puter lagi dan lagi dan lagi, berulangkali sampe kaset itu soak?

Gue pernah, sering malah.

Nah, sekarang ini gue lagi ber-nostalgia dengan dengerin CD Josh Groban – Closer.

Sebenernya dulu tahun 2003 gue udah ada kasetnya, beli bareng ortu. Namun entah kenapa yang gandrung malah gue. Gue puter kaset itu berulangkali sambil belajar, baca buku, tiduran-sampe ketiduran.

Lagu-lagunya enak-enak banget!!

Dua diantaranya yang saya suka banget adalah Remember When It Rained dan Never Let Go (feat Deep Forest).

 

Wash away the thoughts inside

that keep my mind away from you

no more love and no more pride

and thoughts are all I have to do

remember when it rained

in the darkness I remained..

(remember when it rained)

***

 

forced apart by time and sand

take a step and take my hand

and don’t let it go

never let go

broken, once connected

we were so strong and so blessed in a simple way

so don’t let me go it alone

(never let go)

***

 

Mendengarkan ulang lagu-lagu di album ini sejenak membawa gue kembali ke ruang waktu tahun 2003-2005 saat gue menjejak tanah negeri tetangga..

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.